Sejarah

Asal Usul Rencong Senjata Mematikan Khas Aceh, Penjajah Belanda Heran Lihat Kehebatannya

Rencong Lawan Belanda Aceh

SelidikiAceh – Provinsi Aceh tak hanya dikenal dengan nama negeri Serambi Mekkah, namun Aceh juga dikenal dengan sebutan tanah rencong.

Mengapa Aceh disebut tanah rencong?

Jawabannya adalah karena ada senjata khas Aceh selain meriam dan senjata api yang bernama “Rencong’ menjadi simbol dan lambang Aceh.

Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong Aceh memiliki bentuk seperti huruf (L) atau lebih tepat seperti tulisan kaligrafi “Bismillah”.

Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau atau pedang).

Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan.

Rencong ini dipakai oleh para pejuang Aceh dalam melawan penjajahan bangsa asing dulu, tidak hanya pejuang saja yang memakai rencong tapi juga raja-raja dan kaum bangsawan di Aceh.

Gadis Aceh Pakai Rencong

Rencong diselipkan di pinggang bagian depan sebagai makna siap bertempur hingga darah penghabisan.

Tidak seperti keris yang dipakai dalam adat Jawa, keris diselipkan dipinggang bagian belakang dan terkesan disembunyikan.

Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri.

Namun sekarang, setelah tak lagi lazim digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh.

Sejarah Asal Usul Rencong

Sejarah Aceh tidak mencatat secara pasti asal usul rencong senjata mematikan khas Aceh ini, namun ada sebuah legenda yang menceritakan bahwa dulu di Aceh ada burung sejenis elang, masyarakat Aceh waktu itu menyebutnya “geureuda” atau dalam bahasa Indonesia-nya bermakna “rakus”.

Burung ini meneror kehidupan masyarakat dan memakan semua tanaman, buah-buahan dan ternak pun mati disebabkan olehnya.

Berbagai macam perangkap telah dipakai untuk meringkus burung ini namun tidak mempan juga malah semakin gencar melakukan aksi terornya.

Raja pun mengambil tindakan dengan menyuruh seorang pandai besi yang mempunyai ilmu maqfirat besi untuk membuat senjata ampuh yang bisa membunuh burung itu.

Setelah melakukan puasa, shalat sunat, serta berdoa kehadhirat Allah SWT untuk memberikan petunjuk terhadap jenis besi dan logam yang dipilih serta senjata yang akan dia buat.

Akhirnya pandai besi itu membuat sebilah rencong yang menyerupai tulisan bismillah dalam aksara Arab.

Atas dasar inilah rencong hanya digunakan dalam jihat fisabilillah dalam memerangi penjajah dan kezaliman di negeri ini.

Menurut catatan sejarah lainnya, rencong telah digunakan di Kesultanan Aceh sejak masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah yang merupakan Sultan Aceh yang pertama.

Kedudukan Rencong di Kesultanan Aceh sangatlah penting, Rencong selalu diselipkan di pinggang Sultan Aceh, selain itu para Ulee Balang dan masyarakat biasa juga menggunakan Rencong.

Rencong emas milik Sultan Aceh dapat kita jumpai di Museum Sejarah Aceh, dari bukti sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa Rencong memang sudah terlahir sejak masa Kesultanan Aceh namun pembuat pertamanya sampai saat ini belum diketahui.

Mengenai sejarah timbulnya akal manusia dalam menciptakan senjata reuncong ini dapat ditinjau dari dua segi.

Pertama, sejak sebelum zaman Islam orang Aceh sudah menggunakan berbagai peralatan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat.

Berbagai macam bentuk alat-alat atau perkakas itu antara lain, alat perang, kampak, pisau dan sebagainya.

Sudah barang tentu dalam penciptaan berbagai macam alat yang dibutuhkan tersebut mempunyai cara pembuatannya masing-masing.

Kita bisa melihat dari kampak genggam zaman batu tua (Paleolithikum) menjadi kampak licin atau diasah dengan baik sehingga tajam, merupakan hasil ciptaan manusia dalam pembuatan alat-alat pada zaman batu baru (Neolithikum).

Demikian juga terjadi pada alat-alat pemotong seperti parang. Tentu saja pada mulanya berbentuk kasar, lama kelamaan berbentuk licin dan halus.

Hal ini merupakan tugas dari pandai-pandai besi, yang di Aceh dikenal dengan nama Pandee Beusou.

Pandee Beusou itu umumnya menciptakan alat-alat pemotong yang praktis untuk rumah tangga yaitu pisau yang pada mulanya berbentuk kasar kemudian secara perlahan-lahan mencapai kesempurnaannya.

Kedua, Reuncong dilihat sebagai senjata perang. Alat-alat ini mula-mula berasal dari pisau yang digunakan secara praktis kemudian dikembangkan untuk penggunaannya yang bersifat magis religius setelah dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi senjata perang dan biasanya diciptakan oleh pandee beusou yang ahli.

Pandee beusou di samping berkeahlian menciptakan bentuk yang indah, dia juga harus dapat menciptakan bentuk yang dapat membahayakan musuh, kalau digunakan untuk menikam.

Sebagaimana tiap naluri manusia menginginkan alat perkakas pribadi, demikian juga bahwa alat yang seperti rencong diciptakan orang Aceh sebelum masuk Islam ke Indonesia.

Untuk selanjutnya demikian pula bahwa rencong secara evolusi mencapai kesempurnaannya mulai sejak masuknya Islam ke Indonesia.

Dengan perkataan lain bahwa rencong itu mulai dikenal sejak berdirinya kerajaan Islam yang bernama Pasee.

Sejak pasee tumbuh dan berkembang dia membutuhkan pola strategi pertahanan yang kuat. Pola strategi pertahanan tersebut membutuhkan kekuatan anggota militer yang dibarengi dengan persenjataan dan peralatan perang yang cukup memadai.

Salah satu alat yang dipakai adalah rencong dan menurut para ahli sejarah rencong ini mulai digunakan pertama kali pada saat Sultan Ali Muqhayat-Syah memerintah kerajaan pada tahun 1514-1528.

Senjata rencong ini menemui bentuk yang sebenarnya pada waktu itu sebagaimana yang kita kenal sekarang, yang kelihatannya lebih berorientasi pada kepercayaan Islam sebagai agama yang amat berpengaruh dalam penghidupan sosial budaya masyarakat Aceh.

Sejarah lainnya mencatat, rencong Aceh diawali pada masa Sultan Saidil Mukammil, neneknya Sultan Iskandar Muda yang memerintah pada tahun 1585-1604 M.

Raja dari kerajaan Aceh yang terkenal itu, ingin memiliki sebuah senjata khas, lagi andal untuk ditampilkan, serta dapat melambangkan sifat daerah Aceh dan agama. Namun senjata itu tidak berhasil dibentuk atau dibuat hingga wafatnya sultan tersebut.

Cita-cita itu baru dapat terwujud pada masa Sultan Iskandar Muda. Yaitu sebilah senjata dengan bentuk yang mengandung unsur bumi Aceh dan Islam.

Pulau Sumatera dengan belahan gunung Seulawah dan Bukit Barisan yang tersalinkan kalimat Bismillahir Rahmanir Rahiem.

Maka terbentuklah sebuah senjata yang di dalam terdapat unsur tanah atau bumi Aceh dan juga Islam, yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Senjata itu berhasil dibentuk dan didapatkan oleh para panglima dan ulama pada saat itu.

Harapan dan cita Sultan Saidil Mukammil untuk mendapatkan senjata yang dapat ditampilkan ketika berhadapan dengan musuh agama, dan dianggap mempunyai digdaya khusus, seperti batangnya yang tajam.

Diharapkan nantinya senjata itu dapat juga disisipkan pada pinggang sebagai pelengkap kebesaran di pesta perkawinan maupun dalam upacara adat lainnya.

Nama rencong sebenarnya berasal dari “Runcing” , kemudian berubah menjadi Rincung, yang kemudian berubah lagi menjadi “Rencong”.

Adapun bentuk salinan dari ujungnya yang tajam itu adalah dari huruf mim sebagai bentuk rencong. Huruf mim ini mempunyai suatu sejarah pada awal penciptaannya, bahwa dijadikan huruf mim itu disertai dengan suatu cahaya yang menerangi alam jagat raya. Itulah cahaya Nur-Muhammad, demikian menurut sebuah riwayat yang ada.

Adapun tangkai tempat memegangnya serta sarungnya itu diambil dari bentuk Gajah. Gajah inipun mempunyai kisah tersendiri dalam masyarakat Aceh.

Di dalam Alqur’an pun dijumpai peristiwa bergajah pada salah satu suratnya yang bernama Gajah (Al-Fiil).

Kalimah Bismillahir Rahmanir Rahiem sebagai salinan utama daripada bentuk rencong tersebut merupakan intisari Alqu’an Al-“Adhiem.

Bentuk dan Jenis Rencong

Jenis-Jenis Rencong

Bentuk rencong berbentuk kalimat bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab “Ba“, bujuran gagangnya merupaka aksara “Sin“, bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara “Mim“, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara “Lam“, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara “Ha“.

Rangkaian dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah. Jadi pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi.

Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang di jalan Allah.

Rencong memiliki dua tingkatan. Pertama, rencong yang digunakan oleh raja atau sultan. Rencong ini biasanya terbuat dari gading (sarung) dan emas murni (bagian belatinya).

Kedua, rencong-rencong yang sarungnya biasa terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan belatinya dari kuningan atau besi putih.

Secara umum, ada empat macam rencong yang menjadi senjata andalan masyarakat Aceh.

Rencong Meucugek (Meucungkek), Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek.

Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh.

Rencong Meupucok, Rencong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas.

Gagang dari rencong meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar.

Jenis rencong semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, rencong ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian.

Rencong Pudoi, Rencong jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti rencong umumnya. Terkesan, rencong ini belum sempurna sehingga dikatakan pudoi.

Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna.

Rencong Meukuree, Perbedaan rencong meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata rencong jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya.

Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Rencong yang disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree.

Semakin lama atau semakin tua usia sebuah rencong, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata rencong tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis.

Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi-besi pilihan, yang di padu dengan logam emas, perak, tembaga, timah dan zat-zat racun yang berbisa agar bila dalam pertempuran lawan yang dihadapi adalah orang kebal terhadap besi, orang tersebut akan mampu ditembusi rencong.

Gagang rencong ada yang berbentuk lurus dan ada pula yang melengkung keatas. Rencong yang gagangnya melengkung ke atas disebut Reuncong Meucungkek, biasanya gagang tersebut terbuat dari gading dan tanduk pilihan.

Bentuk meucungkek dimaksud agar tidak terjadinya penghormatan yang berlebihan sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki hanya milik Allah semata.

Maksudnya, bila rencong meucungkek disisipkan dibagian pinggang atau dibagian pusat, maka orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut.

Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar, pada saat-saat genting dengan mudah dapat ditarik dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman.

Satu hal yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya adalah rencong tidak pernah diasah karena hanya ujungnya yang runcing saja yang digunakan.

Aceh Lawan Belanda dengan Rencong

Rencong di Zaman Belanda

Dalam catatan sejarah Aceh seorang pejuang Aceh pernah menewaskan segerombolan serdadu Belanda yang bersenjata lengkap hanya dengan sebilah rencong.

Peristiwa ini membuat penjajah Belanda sangat terpukul, heran, dan bahkan stress memikirkan tentang kejadian yang aneh ini.

Inilah sebabnya Belanda menyebut orang Aceh sebagai orang gila atau Aceh Pungo.

Inilah pula yang menjadikan rencong sebagai senjata paling mematikan yang pernah ada, hingga meninggalkan ribuan kuburan Belanda di Aceh.

Kesimpulan

Asal Usul Rencong Aceh

Masyarakat Aceh sendiri kerap menghubungkan kekuatan mistik dengan senjata Rencong.

Rencong saat ini masih digunakan dan dipakai sebagai atribut busana di dalam setiap upacara-upacara adat Aceh.

Masyarakat Aceh juga mempercayai bahwa bentuk dari Rencong mewakili simbol dari Bismillah dalam kepercayaan Agama Islam.

Saat ini, para penulis rencong sudah langka dan masih terdapat di beberapa daerah, seperti penulis rencong Aulia Tujuh, penulis rencong Isim Sulaiman, masing-masing mempunyai cara dan kisahnya, jika kita selusuri.

Kalimah basmallah ini hanya diberikan-Nya kepada Nabi Sulaiman as, dan Nabi kita Muhammad SAW. Serta hal ini tidaklah didapati pada agama lain manapun kitab-kitabnya kecuali di dalam Alqur’an.

Uraian basmallah di sini tertentunya terbatas, namun jika nanti dijabarkan dari berbagai kitab-kitab lainnya yang berkenan khusus dengannya. Maka akan tampak dengan jelas akan kedahsyatan serta keampuhan akan khasiat dan fadhilat kalimah yang terdapat di dalam pusaka itu.

Senjata rencong suatu hasil kerja nyata oleh orang-orang Aceh di masa lalu. Dari penggabungan unsur bumi atau tanah, agama dan hewan, yang dituangkan dalam bentuk sebuah senjata logam.

Maka sudah sewajarnya bagi generasi penerusnya berkewajiban untuk melestarikan, memelihara dan menjaga, akan pusaka daerah ini. Di samping itu kita telah turut berpartisipasi penuh memuliakan serta mengangungkan kalimah Allah di bumi ini.

Karena sejarah dan kepopuleran Rencong, maka masyarakat dunia menjuluki Aceh sebagai “Tanah Rencong”.

Saat ini Rencong telah diusulkan menjadi Warisan Karya Budaya Dunia UNESCO oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh.

 

Sumber: Wikipedia, Acehtourismagency, Atjehliterature, dan  archives.portalsatu.com/headline/asal-usul-rencong/

Terpopuler

To Top