Budaya

Inilah 3 Tradisi Unik yang Hanya Ada Di Aceh, Tidak Ada Di Daerah Lain

Budaya Aceh Peusijuk

SelidikiAceh – Tahukah anda bahwa setiap daerah di Indonesia mempunyai kebudayaan yang khas dan unik? Begitu juga halnya dengan provinsi Aceh.

Masyarakat Aceh yang mayoritasnya muslim juga mempunyai tradisi kebudayaan yang unik lho? Akan tetapi, tradisi kebudayaan tersebut sangat menjunjung tinggi nilai religius (agama) Islam, sebagaimana Aceh yang dijuluki dengan daerah Serambi Mekah, karena nilai keislaman masyarakat Aceh masih sangat kental.

Berikut ini adalah budaya atau tradisi unik dan khas dari beberapa daerah di provinsi Aceh dan tidak terdapat di daerah lain.

1. Peusijuek

Budaya Aceh Peusijuk

Dalam bahasa Aceh Peusijuk terdiri dari dua kata, yaitu peu dan sijuek. Jika ditilik lebih lanjut, peu dalam kata peusijuk bukanlah kata yang bisa dipisahkan karena peu di sini bermaksa sebagai awalan untuk kata sijuek.

Sijuek berarti dingin, jadi jika digabung dengan awalan peu, artinya adalah pendingin atau membuat sesuatu menjadi dingin.

Tujuan Peusijuk sebenarnya adalah untuk memberkati sesuatu termasuk di dalamnya mendoakan orang akan dipeusijuk.

Secara makna yang lebih luas, Peusijuk adalah sebuah prosesi yang dilakukkan pada kegiatan-kegiatan tertentu dalam kehidupan masyarakat Aceh, seperti Peusijuek pada kenduri perkawinan, kenduri sunatan, saat ada seseorang yang hendak berangkat haji, peusijuek hewan kurban, peusijuek rumah atau kendaraan baru dan berbagai upacara lainnya yang sering terjadi dalam masyarakat Aceh.

Ritual peusijuek ini mirip dengan tradisi tepung tawar dalam budaya Melayu. Di Aceh yang melakukan acara peusijuek adalah tokoh agama maupun adat yang dituakan ditengah masyarakat.

Bagi kaum lelaki yang melakukan peusijuek adalah tokoh pemimpin agama Teungku (Ustadz) sedangkan bagi wanitanya adalah Ummi atau seorang wanita yang dituakan ditengah masyarakat.

Diutamakan yang melakukan peusijuek ini adalah mereka yang memahami dan menguasai hukum agama sebab prosesi peusijuek ini diisi dengan acara mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bersama sesuai dengan agama Islam yang dianut secara umum oleh masyarakat Aceh.

Perlengkapan peusijuek terdiri dari: talam satu buah, breuh padee (beras) satu mangkok, bu leukat kuneng (ketan kuning) satu piring besar bersama tumpoe (penganan berupa kue yang dibuat dari tepung dan pisang) atau kelapa merah yang sering disebut inti u(inti kelapa), teupong taweu (tepung yang dicampur air), on sineujuek (daun cocor bebek), on manek mano (jenis daun-daunan), on naleung samboo (sejenis rerumputan yang memiliki akar yang kuat), glok ie (tempat cuci tangan), dan sangee (tudung saji).

2. Kuah Beulangong

Kuah Beulangong Budaya Di Aceh

Beulangong atau belanga besar, adalah sebutan untuk kuali besar yang ukuran diameternya bisa mencapai satu meter.

Di dalam wadah besar itu, dimasaklah daging kambing dengan campuran pisang atau nangka. Lalu diramu bersama bumbu dari rempah-rempah Aceh yang khas.

Kayu-kayu bakar menyala di bawah belanga besar ini. Kuah beulangong sebenarnya hanya daging sapi atau kambing yang dimasak dalam belanga besar, kemudian dimakan bersama-sama oleh masyarakat.

Masyarakat di pedesaan khususnya di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar hingga saat ini masih melaksanakan kegiatan tersebut secara turun-temurun.

Kuah beulangong juga akan ditemui saat-saat kenduri di rumah masyarakat, baik pesta perkawinan, syukuran, maupun saat mendoakan orang yang telah meninggal.

3. Kenduri Blang

Tradisi Budaya Aceh Kenduri Blang

sumber: https://busy.org/@muhammadikbal/

Kenduri Blang atau kenduri jak u blang (kenduri sebelum menanam pagi) merupakan salah satu adat dan budaya masyarakat sebelum turun sawah.

Tradisi ini sudah ada sejak dahulu dilakukan oleh masyarakat Aceh ketika akan turun sawah atau memasuki masa menanam padi, yang bertujuan untuk memohon doa demi keselamatan tanaman padi dari segala hama dan penyakit.

Selain itu, kenduri blang juga bertujuan memohon kepada Allah SWT. supaya mendapatkan hasil panen melimpah ruah.

Lazimnya sebelum kenduri dimakan bersama, kepala gampong memberikan petunjuk-petunjuk yang dibolehkan atau yang menjadi larangan (pantang blang) kepada masyarakat yang hadir.

Tradisi ini sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Bireuen, Aceh Utara, dan wilayah lainnya di Aceh.

Asal usul kenduri blang atau khanduri blang ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Tradisi ini dilakukan untuk peusijuek bibit yang akan diturunkan setiap tahun (tahun yang akan dilakukan penanaman padi).

Sebelum kenduri, terlebih dahulu dilakukan mufakat persiapan kenduri oleh kelompok petani tersebut secara patungan (meuripe-ripe).

Hasil patungan ini untuk persiapan pelaksanaan. Biasanya mereka sembelih ayam dan menyediakan nasi nasi bungkus atau bu kulah.

Dalam tatacaranya, penyembelihan ayam tersebut harus di sawah. Menurut keyakinan masyarakat di sana, hal itu dilakukan sebagai isyarat darah ayam agar petani selamat dari alat-alat yang tajam seperti cangkul, tajak, babat, dan lain sebagainya.

Dalam kenduri blang itu juga dilakukan baca yaasin sekali tamat dan doa semoga tanaman padi tahun ini berkat hingga dapat dizakatkan.

Usai pembacaan yaasin dan doa bersama, dilakukan tepung tawar pada bibit dan alat-alat tani. Tepung tawar atau peusijuek juga dilakukan pada petaninya.

Alat-alat yang digunakan sebagai peusijuek antara lain (1) berteh (padi yang digongseng hingga mengembang) digunakan supaya ringan padi keluar, (2) sebutir telur ayam kampong, ini dipercaya sebagai kepala obat, (3) seikat daun peusijuek, digunakan supaya padi mudah berkembang biak.

Masyarakat yakin manfaat dilakukan kenduri blang antara lain: pertama, mengetahui berapa banyak kelompok penanam padi di sawah dan perencanaan penanaman padi. Kedua, mengadakan gotong royong secara bersama-sama. Ketiga mengadakan peraturan pantangan-pantangan di sawah, hal ini dilakukan agar semua petani tetap menjaga pantangan-pantangan secara kebersamaan. Keempat, mengadakan peraturan pananaman, hal ini dilakukan untuk menghindari agar tidak ada petani yang terlambat menanam padinya.

Apabila ada salah satu petani yang terlambat menanam padi, ditakutkan nantinya padi yang ditanamnya akan ketinggalan panen, yang mengakibatkan padinya akan terserang hama lebih mudah.

Nah, itulah informasi mengenai kebudayaan unik yang di jadikan tradisi turun menurun dari masyarakat di Aceh. Oleh karena itu, mulai sekarang cintailah kebudayaan kita sendiri jangan lebih mengaplikasikan budaya barat agar budaya tradisi tersebut tidak hilang seiring perkembangan zaman. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat bagi kita semua.

Terpopuler

To Top