Sejarah

Orang Aceh Harus Tahu, Ternyata Begini Sejarah Awal Masuknya PKI ke Aceh

Salah Tangkap Orang ANti PKI Aceh

SelidikiAceh – PKI , jika kita berkata tentang PKI maka kita kan mengingat peristiwa kelam yang terjadi pada 30 September 1965, dimana kejadian tersebut menewaskan 6 jenderal dan banyak orang yang tidak bersalah.

PKI merupakan kepanjangan dari Partai Komunis Indonesia. Partai ini menganut ideologi sosialis marxisme yang di tulis oleh Karl marx yang membedakan antara Kaum Borjouis (bangsawan) dan Kaum Proletaar (buruh).

Selain itu partai ini juga menganut konsep Materialisme yaitu hanya mempercayai apa yang dapat dilihat saja. Sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan apa yang tidak dapat dilihat maka mereka tidak akan mempercayainya seperti Tuhan atau Agama.

Oleh karena itu orang-orang komunis menolak mempercayai Tuhan maupun agama. Karena mereka menganggap Agama atau Tuhan adalah sesuatu yang tidak ada dan hanya dibuat-buat untuk memberikan harapan palsu kepada masyarakat.

Paham Komunis pertama kali menancapkan pengaruhnya di Uni Soviet , kemudian berlanjut ke China dan menyebar ke seluruh dunia bahkan Indonesia.

Di indonesia sendiri paham ini kemudian membentuk partai lalu menyebarkan ke seluruh pelosok negeri termasuk Aceh.

Mengapa dan bagaimana partai yang berideologi komunis itu bisa berdiri di tengah masyarakat Aceh yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan menganut syariat Islam?

Sejarah Masuk PKI ke Aceh

Kisah PKI di Aceh

Masyarakat demo tolak PKI di Aceh (portalsatu.com)

PKI pada awalnya masuk ke Aceh dibawa oleh para pendatang sejak zaman kolonial Belanda.

Hal tersebut di buktikan dengan melihat sensus pada tahun 1930 dimana sensus menunjukan bahwa hampir 10 persen dari 100.392 penduduk Aceh waktu itu adalah pendatang dari luar.

Penggunaan tenaga pendatang dalam pengoprasian sektor modern itu tentulah terkait erat dengan kondisi objektif tenaga kerja orang Aceh yang belum memiliki ketrampilan untuk masuk kedalam sektor tersebut.

Lagi pula pada waktu itu sikap anti kafir dan keengganan bekerja sebagai buruh merupakan faktor penarik tenaga kerja asing untuk masuk ke aceh pada waktu itu. Dan juga saat itu orang Aceh masih hidup di kampung-kampung dengan pertanian sebagai basis kehidupannya.

Selain itu masyarakat agraris Aceh pada waktu itu berada dibawah kekuasaan kaum bangsawan sebagai puncak hierarki kekuasaan lokal yang telah mendapat persetujuan pemerintah kolonial saat itu.

Dalam situasi demikian ideologi komunis mulai masuk ke Aceh, melalui para pekerja asing tersebut.

Meskipun pada mulanya sasaran propaganda komunis adalah para pendatang yang merupakan pekerja kebun, tambang, pelabuhan, buruh kereta api dan pegawai pemerintahan.

Akan tetapi lambat laun gerakan ini menjalar pula di kalangan orang Aceh yang telah mendapat pengaruh budaya kota yang tidak puas dengan struktur sosial masyarakat feodalistik.

Pada tahun 1926 Seperti rekan-rekannya di pulau jawa, para aktivis komunis melakukan sebuah gerakan bawah tanah yang mengganggu kepentingan Belanda.

Hal tersebut mampu di ketahui dan digagalkan oleh Belanda dimana seluruh aktivis komunis ini ditangkap dan dijatuhi hukuman untuk meninggalkan daerah Aceh.

Akibat tindakan Belanda tersebut menyebabkan gerakan Komunis menghilang dari Aceh hingga akhir masa kolonial.

Setelah berakhirnya periode Kolonialisme Belanda partai komunis kembali masuk ke Aceh pada November 1945, sebulan setelah pembentukan Keresidenan Aceh.

Seirama dengan anggaran dasar PKI yang di sahkan oleh kongres VI tanggal 11-13 Januari 1947 di Solo dalam pasal 3 disebutkan PKI berusaha mencapai tujuannya dengan perjuangan kelas Revolusioner yaitu perjuangan buruh tani dan perjuangan kelas-kelas tertindas terhadap kelas Borjuis.

Hal ini menyebabkan kelompok Komunis kerap kali saling berhadapan dengan kelompok berkuasa di Aceh.

Sehingga pada tahun 1946 Tentara Perjuangan Rakyat dari partai Komunis melakukan aksi menurunkan kaum bangsawan dari tahta kekuasaanya di Aceh yang terkenal dengan “Peristiwa Cumbok “ atau “Revolusi Sosial”.

Setelah itu kaum komunis pun kembali menggerakan massa mereka untuk menentang penguasa lewat agitasi politik dan masalah demokrasi.

Konflik antara PKI dan kelompok penguas di Kutaraja terjadi pada akhir revolusi ketika masing-masing pihak ingin memperkokoh kekuasaannya. pada pemilikan ladang minyak dan kebun.

Terutama di Aceh Timur. Yang mana salah satu letupannya dikenal dengan “Langsa Affair” pada bulan Mei 1949.

Pada saat Aceh menjadi provinsi sendiri, tidak lagi berada di bawah Provinsi Sumatera Utara. PKI merupakan salah satu partai yang menentangnya. Dimana PKI menginginkan Aceh tetap sebagai Keresidenan di bawah Provinsi Sumetera Utara.

Mengingat situasi tersebut sewaktu status otonomi daerah Aceh di perdebatkan pada tahun 1950-1953 aktivis komunis bergabung dengan kelompok unitaris lain supaya Aceh tetap tunduk sebagai bagian dari Provinsi Sumatera Utara.

Tatkala gerakan Darul Islam (DI/TII) di Aceh meletus partai Komunis merupakan salah satu unsur yang mendukung aksi garis keras dalam memadamkan gerakan itu.

Keberanian Aktivis PKI dalam memperjuangkan ide-idenya di Aceh semakin meningkat pada masa demokrasi terpimpin.

Adapun pada waktu itu gerakan PKI di Aceh sebelum 30 September 1965 memang legal, meskipun kekuasaannya tidak terlalu besar di elit pemerintahan.

Berdasarkan surat keputusan Menteri Dalam Negeri NO.2/211/50-129 tanggal 9 september 1961 anggota DPR-GR Daerah Istimewa Aceh jumlah nya 30 orang.

PKI hanya mewakilkan 2 anggota yaitu Thaib Adamy dan Nyak Ismail.

Meskipun di DPR-GR PKI diwakili oleh 2 orang, namun mereka mempunyai kader dilapisan bawah, mereka dibujuk untuk menerjemahkan PKI sebagai Partai Kejayaan Islam, sedangkan BTI sebagai Barisan Tani Islam., sehingga orang-orang awam menganggap organisasi tersebut sebagai organisasinya orang islam.

Propaganda dan sistem pengkaderan PKI dilakukan begitu gencar di Aceh seperti melibatkan para petani miskin, buruh-buruh perkebunan, buruh disektor kota, pegawai pemerintahan golongan bawah bahkan para buruh kereta Api Aceh.

PKI dengan para pemimpinnya memberikan alat-alat pertanian dan bibit tanaman kepada petani. Dan menjanjikan kredit kepada pengusaha Gurem dan kepada mahasiswa underbownya PKI yaitu CGMI dijanjikan kuliah di Moskow dan RRC.

Walaupun begitu kenyataan nya PKI tidak dapat menguasai penduduk disekitar pesisir pantai (nelayan) seperti Pidie dan Aceh Utara.

Ketika bulan oktober 1965 bukti PKI yang terlihat hebat dan besar itu ternayata tidak berarti apa-apa ketika diamuk oleh pemuda Aceh. Namun yang disayangkan banyak rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa ikut menjadi korban pada tahun itu.

Adapun bagi masyarakat Aceh PKI memang tidak sesuai dengan ideologi masyarakat Aceh yang beragama karena pada konsepnya PKI adalah sebuah ideologi yang tidak bertuhan. yang membahayakan negara dan mengancam UUD 45 dan Pancasila.

Sumber referensi :
Taufik Abdullah, Sukri Abdurahman dan Restu Gunawan. “Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional .2011. Jakarta. yayasan Obor Indonesia

Terpopuler

To Top