Sejarah

Mengenal Sosok Pocut Baren, Pahlawan Wanita Aceh Pembasmi Kolonialisme Belanda

Sosok Pocut Baren

SELIDIKIACEH – Jika kita menapaki masa lalu Aceh, maka kita akan menemukan salah satu sosok pahlawan Aceh yaitu Pocut Baren pahlawan wanita Aceh pembasmi kolonialisme Belanda.

Di daerah lain peranan wanitanya belum begitu menonjol, maka Aceh justru muncul banyak tokoh-tokoh wanita yang menjadi pemimpin, baik pemimpin militer maupun kepala pemerintahan.

Hal ini membuktikan bahwa dalam gerakan emansipasi wanita, Aceh selangkah lebih maju dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Hal ini terbukti dengan adanya wamita yang menjadi Sultanah, (wanita kepala pemerintahan Kerajaan Aceh), Uleebalang (kepala kenegerian), Laksamana (pemimpin angkatan perang), pemimpin gerilya melawan Belanda, penyair dan sastrawan wanita.

Sosok Pocut Baren

pocut baren

pocut baren (teungkuputeh.com)

Pocut Baren adalah puteri Teuku Cut Amat, keluarganya sudah sekian lama turun-temurun menjadi uleebalang di Tungkop dan sudah meninggal suaminya yang diikutinya dalam peperangan (melawan Belanda), maka dialah yang berhak menjadi Uleebalang Keujreun Gume.

Pocut Baren telah berjuang dalam waktu yang cukup lama. Sejak muda ia terjun ke kancah pertempuran. Pocut Baren juga ikut berjuang bersama-sama dengan Cut Nyak Dhien.

Perjuangan dan perlawanan Pocut Baren yang gagah berani dilukiskan sendiri oleh penulis Belanda bernama Doup. Pocut Baren telah melakukan perlawanan terhadap Belanda sejak tahun 1903 hingga tahun 1910.

Cut Nyak Dhien pernah tertangkap oleh pasukan Belanda pada tanggal 4 November 1905. Artinya, Pocut Baren pernah memimpin sendirian pasukannya melawan Belanda, meskipun Cut Nyak Dhien masih aktif berjuang secara sendirian.

Dengan demikian, pada masa itu di wilayah Aceh terdapat dua wanita pejuang yang memimpin pasukannya melawan Belanda, yaitu Cut Nyak Dhien dan Pocut Baren.

Akibat serangan gencar Belanda, Pocut Baren pernah terdesak ke pedalaman hutan dan memutuskan bermarkas di sebuah gua di Gunong Mancang.

Belanda mengalami kesulitan melacak keberadaan gua ini. Hingga suatu saat, keberadaan gua tersebut diketahui. Usaha tentara Belanda untuk sampai di gua itu kandas di tengah jalan karena ketika sedang mendaki gunung, beratus-ratus batu digulingkan ke bawah oleh anak buah Pocut Baren sehingga banyak tentara Belanda yang tewas.

Akhirnya Belanda mendapat akal untuk mengalirkan 1200 kaleng minyak tanah ke arah gua lalu dibakar. Banyak jatuh korban karena penyerangan ini.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Aceh, Ternyata Segini Jumlah Perempuan di Sekeliling Sultan Iskandar Muda

Pocut Baren sendiri terkena peluru di kakinya sehingga perlawanannya terpaksa berhenti. Ia lalu ditahan di Kutaraja, namun anak buahnya tetap melakukan perlawanan.

Setelah penangkapannya oleh Belanda, dia dipindahlan ke Kutaraja (sekarang BandaAceh). Kakinya yang tertembak karena tidak menerima perawatan yang cukup lalu membusuk dan harus diamputasi.

Setelah Pocut Baren dinyatakan sembuh dari sakitnya dan diyakini oleh Belanda tidak akan melakukan perlawanan lagi, maka ia dikembalikan ke kampung halamannya di Tungkop sebagai seorang uleebalang.

Namun demikian perlawanan Pocut tidaklah berhenti sampai disitu saja. Walau ia tidak dapat berperang langsung namun jiwa panglimanya terus berkobar. Dia terus menyemangati para anak buahnya.

Melalui syair dan pantun dia menyemangati para pengikutnya agar tetap bersemangat melakukan perlawanan terhadap kaphe Belanda. Pantun-pantunnya yang popular dan mengesankan itu masih belum dilupakan orang.

Pocut Baren wafat pada tahun 1933 (menurut laporan politik Gubernur Aceh O.M Goedhart selama pertengahan 1928. Pocut Baren meninggal tanggal 12 Maret 1928, Zentgraff keliru mencatat tahun 1933). Ia dimakamkan di kampung halamannya di Kemukiman Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.

Nama wanita itu meninggalkan kenangan, seorang sosok wanita di pantai Barat Aceh yang paling cakap dan penuh vitalitas dari semua wanita yang ada di daerah itu.

Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah pun mengabadikan namanya menjadi nama salah satu jalan di Aceh dengan nama Pocut Baren.

———————————————————————————

Sumber: Atjehliterature dan Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Terpopuler

To Top